Kamis, 22 Oktober 2015

1C-PGMI-Nur Octaviana(D97215104)

PESTA DEMOKRASI? Siapa takut!


Mungkin istilah ini sudah tak asing ditelinga kita. Beberapa masyarakat juga sering menggunakan istilah itu. Masyarakat mengartikan pesta demokrasi adalah pemilu (pemilihan umum). Yaps, benar. Kurang lebih seperti itulah artinya. Pesta berarti kegiatan yang melibatkan banyak orang. Jadi pesta demokrasi adalah suatu kegiatan pemilihan umum dimana kegiatan tersebut harus diikuti banyak orang (rakyat maupun para calon yang akan dipilih itu sendiri).
Seperti yang kita semua ketahui, di pelajaran PKn banyak materi tentang pemilu. Baik pengertian pemilu, tujuan pemilu, hukum pemilu, siapa yang sudah bisa mengikuti pemilu, bahkan sampai pentingnya peranan masyarakat dalam pelaksanaan pemilu itu sendiri. Semua ada dan sudah dijelaskan secara gamblang. Karena mengetahui besarnya peranan masyarakat dalam merubah negara itu sendiri dengan cara memilih pemimpin yang benar-benar amanah, membuat hati saya terbuka untuk mengikuti pemilu. Meski banyak masyarakat luas yang tidak mengerti arti penting suara mereka, walau terkesan diremehkan, hanya satu suara mana mungkin bisa merubah negara, karena itulah mereka memilih hanya asal-asalan. Bahkan ada yang memilih golput. Padahal satu suara mereka jika disatukan dengan satu yang lain bisa membuat suara yang kuat yang mampu merubah masa depan negara.
Sejak masuk kelas satu SMA saya ingin sekali turut andil dalam menyumbangkan suara saya. Tapi apa boleh buat, umur saya belum mencukupi.

Akhirnya sampailah saya pada umur tujuh belas, dimana saya sudah boleh ikut memilih. Tapi sedihnya, tak kunjung ada pemilu, karena pemilihan presiden dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Sedangkan pemilihan presiden baru dilaksanakan beberapa bulan sebelum umur saya tujuh belas. Jadi ya meskipun umur saya mencukupi, tetap saja saya harus menunggu beberapa tahun kedepan. Sedih yaa L

Minggu, 04 Oktober 2015

Valentine

Hari jum’at, saatnya Nisa pergi ke pasar. Mungkin ke pasar adalah hal biasa bagi masyarakat umum, namun tidak bagi Nisa. Sejak lahir dia tinggal di pondok pesantren milik abahnya, maka gaya hidupnya pun sama seperti para santri kebanyakan. Dia hanya boleh keluar area pondok seminggu sekali, dan itupun harus ditemani oleh muhrimnya. Makanya kesempatan itu tidak pernah ia sia-siakan. Dia selalu mencatat semua kebutuhannya dalam seminggu, sehingga dipondok ia tak pernah kekurangan apapun.
Sebelum ke pasar, Nisa menulis surat balasan dahulu untuk Putra, lelaki yang pernah menjadi pahlawannya karena menolong Nisa ketika ia kecopetan di pasar beberapa bulan yang lalu. Dan Putra ialah lelaki yang kini telah sukses mengisi hatinya, meskipun Nisa tak pernah mengungkapkan itu.
Sudah 2 bulan ini Nisa dan Putra saling mengenal, namun mereka tidak pernah pergi bersama. Mereka hanya bertukar surat setiap minggunya. Nisa tak pernah mau pergi berdua, karena Nisa tau ada batasan antara mereka berdua.
Sebenarnya tanpa Nisa ketahui, Putra telah menyiapkan kejutan kecil untuk Nisa. Hari itu tepat tanggal 14 Februari, dan Putra memang menyiapkan kejutan itu untuk hari Valentine. Karena itu adalah hari kasih sayang, maka ia akan mengungkapkan rasa sayangnya kepada Nisa. Kejutan istimewa, di hari istimewa dan untuk orang yang istimewa.
Pagi itu Putra telah menunggu Nisa di warung dekat pasar, karena ia tahu hari jum’at adalah hari dimana Nisa selalu pergi ke pasar untuk membeli kebutuhannya, dan setiap ke pasar Nisa tak pernah lupa membeli makanan kecil di warung itu. Putra telah menyiapkan coklat, bunga mawar, dan hadiah. Ia menunggu Nisa dengan setia.
Tak lama Nisa datang. Setelah Nisa masuk warung dan duduk di kursi favoritnya, tiba-tiba Putra datang dan memberinya bunga. Nisa terkejut. Putra tersenyum lalu berkata “happy Valentine day Nisa, selamat hari kasih sayang”
Nisa terdiam, jauh dalam lubuk hatinya ia kecewa. Namun ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung karena ia tahu itu akan mengecewakan Putra.
Setelah terdiam agak lama, Nisa akhirnya berkata “Putra, maaf ya. Bukankah kita orang muslim? Lalu kenapa kamu merayakan hari valentine? Kita tidak boleh Putra, haram hukumnya karena tidak sesuai dengan syariat islam, dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Bukankah kamu tahu itu? Remaja sekarang memang sering merayakan hari kasih sayang dengan pasangannya masing-masing. Itu mengakibatkan unsur-unsur yang akibatnya bisa fatal, misalnya zina. Jadi lebih baik kita jangan merayakan hal tersebut. Bukankah sesungguhnya kasih sayang itu tidak harus ditentukan harinya? Melainkan kita harus saling menyayangi setiap hari antar umat manusia. Maaf Putra jika perkataanku menyakiti perasaanmu”
Ganti Putra yg terdiam, lalu ia berkata “Tidak Nisa, harusnya aku yang minta maaf. Maaf Nisa, aku lupa. Aku terlalu memikirkan perasaanku sehingga aku melupakan hukumnya. Maaf nis. Kalau gitu hari ini aku ganti dengan khitbah day ya”

Nisa tersenyum, ada ada saja Putra ini.