Hari jum’at, saatnya Nisa pergi ke pasar. Mungkin ke pasar adalah
hal biasa bagi masyarakat umum, namun tidak bagi Nisa. Sejak lahir dia tinggal
di pondok pesantren milik abahnya, maka gaya hidupnya pun sama seperti para
santri kebanyakan. Dia hanya boleh keluar area pondok seminggu sekali, dan
itupun harus ditemani oleh muhrimnya. Makanya kesempatan itu tidak pernah ia
sia-siakan. Dia selalu mencatat semua kebutuhannya dalam seminggu, sehingga
dipondok ia tak pernah kekurangan apapun.
Sebelum ke pasar, Nisa menulis surat balasan dahulu untuk Putra,
lelaki yang pernah menjadi pahlawannya karena menolong Nisa ketika ia kecopetan
di pasar beberapa bulan yang lalu. Dan Putra ialah lelaki yang kini telah
sukses mengisi hatinya, meskipun Nisa tak pernah mengungkapkan itu.
Sudah 2 bulan ini Nisa dan Putra saling mengenal, namun mereka tidak
pernah pergi bersama. Mereka hanya bertukar surat setiap minggunya. Nisa tak
pernah mau pergi berdua, karena Nisa tau ada batasan antara mereka berdua.
Sebenarnya tanpa Nisa ketahui, Putra telah menyiapkan kejutan kecil
untuk Nisa. Hari itu tepat tanggal 14 Februari, dan Putra memang menyiapkan
kejutan itu untuk hari Valentine. Karena itu adalah hari kasih sayang, maka ia
akan mengungkapkan rasa sayangnya kepada Nisa. Kejutan istimewa, di hari
istimewa dan untuk orang yang istimewa.
Pagi itu Putra telah menunggu Nisa di warung dekat pasar, karena ia
tahu hari jum’at adalah hari dimana Nisa selalu pergi ke pasar untuk membeli
kebutuhannya, dan setiap ke pasar Nisa tak pernah lupa membeli makanan kecil di
warung itu. Putra telah menyiapkan coklat, bunga mawar, dan hadiah. Ia menunggu
Nisa dengan setia.
Tak lama Nisa datang. Setelah Nisa masuk warung dan duduk di kursi
favoritnya, tiba-tiba Putra datang dan memberinya bunga. Nisa terkejut. Putra
tersenyum lalu berkata “happy Valentine day Nisa, selamat hari kasih sayang”
Nisa terdiam, jauh dalam lubuk hatinya ia kecewa. Namun ia tidak
berani mengungkapkannya secara langsung karena ia tahu itu akan mengecewakan
Putra.
Setelah terdiam agak lama, Nisa akhirnya berkata “Putra, maaf ya.
Bukankah kita orang muslim? Lalu kenapa kamu merayakan hari valentine? Kita
tidak boleh Putra, haram hukumnya karena tidak sesuai dengan syariat islam, dan
bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Bukankah kamu tahu itu? Remaja
sekarang memang sering merayakan hari kasih sayang dengan pasangannya
masing-masing. Itu mengakibatkan unsur-unsur yang akibatnya bisa fatal,
misalnya zina. Jadi lebih baik kita jangan merayakan hal tersebut. Bukankah sesungguhnya
kasih sayang itu tidak harus ditentukan harinya? Melainkan kita harus saling
menyayangi setiap hari antar umat manusia. Maaf Putra jika perkataanku
menyakiti perasaanmu”
Ganti Putra yg terdiam, lalu ia berkata “Tidak Nisa, harusnya aku
yang minta maaf. Maaf Nisa, aku lupa. Aku terlalu memikirkan perasaanku
sehingga aku melupakan hukumnya. Maaf nis. Kalau gitu hari ini aku ganti dengan
khitbah day ya”
Nisa tersenyum, ada ada saja Putra ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar