Minggu, 04 Oktober 2015

Valentine

Hari jum’at, saatnya Nisa pergi ke pasar. Mungkin ke pasar adalah hal biasa bagi masyarakat umum, namun tidak bagi Nisa. Sejak lahir dia tinggal di pondok pesantren milik abahnya, maka gaya hidupnya pun sama seperti para santri kebanyakan. Dia hanya boleh keluar area pondok seminggu sekali, dan itupun harus ditemani oleh muhrimnya. Makanya kesempatan itu tidak pernah ia sia-siakan. Dia selalu mencatat semua kebutuhannya dalam seminggu, sehingga dipondok ia tak pernah kekurangan apapun.
Sebelum ke pasar, Nisa menulis surat balasan dahulu untuk Putra, lelaki yang pernah menjadi pahlawannya karena menolong Nisa ketika ia kecopetan di pasar beberapa bulan yang lalu. Dan Putra ialah lelaki yang kini telah sukses mengisi hatinya, meskipun Nisa tak pernah mengungkapkan itu.
Sudah 2 bulan ini Nisa dan Putra saling mengenal, namun mereka tidak pernah pergi bersama. Mereka hanya bertukar surat setiap minggunya. Nisa tak pernah mau pergi berdua, karena Nisa tau ada batasan antara mereka berdua.
Sebenarnya tanpa Nisa ketahui, Putra telah menyiapkan kejutan kecil untuk Nisa. Hari itu tepat tanggal 14 Februari, dan Putra memang menyiapkan kejutan itu untuk hari Valentine. Karena itu adalah hari kasih sayang, maka ia akan mengungkapkan rasa sayangnya kepada Nisa. Kejutan istimewa, di hari istimewa dan untuk orang yang istimewa.
Pagi itu Putra telah menunggu Nisa di warung dekat pasar, karena ia tahu hari jum’at adalah hari dimana Nisa selalu pergi ke pasar untuk membeli kebutuhannya, dan setiap ke pasar Nisa tak pernah lupa membeli makanan kecil di warung itu. Putra telah menyiapkan coklat, bunga mawar, dan hadiah. Ia menunggu Nisa dengan setia.
Tak lama Nisa datang. Setelah Nisa masuk warung dan duduk di kursi favoritnya, tiba-tiba Putra datang dan memberinya bunga. Nisa terkejut. Putra tersenyum lalu berkata “happy Valentine day Nisa, selamat hari kasih sayang”
Nisa terdiam, jauh dalam lubuk hatinya ia kecewa. Namun ia tidak berani mengungkapkannya secara langsung karena ia tahu itu akan mengecewakan Putra.
Setelah terdiam agak lama, Nisa akhirnya berkata “Putra, maaf ya. Bukankah kita orang muslim? Lalu kenapa kamu merayakan hari valentine? Kita tidak boleh Putra, haram hukumnya karena tidak sesuai dengan syariat islam, dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Bukankah kamu tahu itu? Remaja sekarang memang sering merayakan hari kasih sayang dengan pasangannya masing-masing. Itu mengakibatkan unsur-unsur yang akibatnya bisa fatal, misalnya zina. Jadi lebih baik kita jangan merayakan hal tersebut. Bukankah sesungguhnya kasih sayang itu tidak harus ditentukan harinya? Melainkan kita harus saling menyayangi setiap hari antar umat manusia. Maaf Putra jika perkataanku menyakiti perasaanmu”
Ganti Putra yg terdiam, lalu ia berkata “Tidak Nisa, harusnya aku yang minta maaf. Maaf Nisa, aku lupa. Aku terlalu memikirkan perasaanku sehingga aku melupakan hukumnya. Maaf nis. Kalau gitu hari ini aku ganti dengan khitbah day ya”

Nisa tersenyum, ada ada saja Putra ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar